LHOKSEUMAWE, PilarRakyatIndonesia.news — Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Agusni AH menekankan pentingnya literasi kepemiluan, khususnya pemahaman mengenai mekanisme konversi suara menjadi kursi, sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas demokrasi.

Hal tersebut disampaikan Agusni saat membuka kegiatan Bedah Buku Seri I bertajuk “Matematika Pemilu: Desain Wasted Vote pada Pemilu Indonesia” yang digelar di Aula Kantor KIP Kota Lhokseumawe, Senin (21/9/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan secara luring dan daring dengan menghadirkan Ketua Divisi Teknis Penyelenggara Pemilu KPU RI Dr. Idham Holik, S.E., M.Si., sebagai pembicara utama. Sementara penulis buku, Prof. Dr. phil. Ridho Al-Hamdi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Menurut Agusni, pemilu tidak hanya berkaitan dengan proses pencoblosan di tempat pemungutan suara (TPS). Lebih dari itu, setiap suara yang diberikan masyarakat memiliki konsekuensi dalam proses penerjemahan kehendak rakyat menjadi keterwakilan politik.

“Pemilu bukan sekadar tentang siapa yang dipilih dan berapa suara yang diperoleh. Pemilu juga tentang bagaimana setiap suara diperlakukan oleh sistem, dikonversikan menjadi kursi, dan menjelma menjadi keterwakilan,” ujar Agusni.

Ia menjelaskan, konsep wasted vote atau suara yang tidak terkonversi menjadi kursi menjadi salah satu aspek penting yang perlu dipahami dalam melihat desain sistem pemilu.

Pemahaman tersebut berkaitan dengan sejumlah faktor, antara lain besaran daerah pemilihan, jumlah kursi yang tersedia, ambang batas, hingga metode penghitungan dan alokasi kursi.

Agusni menilai pemahaman terhadap mekanisme tersebut tidak hanya menjadi persoalan teknis bagi penyelenggara pemilu. Literasi mengenai bagaimana suara bekerja dalam sistem pemilu juga menjadi bagian dari tanggung jawab untuk memastikan proses demokrasi berlangsung secara akurat, transparan, dan berintegritas.

“Demokrasi membutuhkan masyarakat yang tidak hanya datang memilih, tetapi juga memahami bagaimana suara mereka bekerja dalam sistem,” katanya.

Kegiatan Bedah Buku Seri I ini diinisiasi oleh KIP Kota Lhokseumawe. Acara tersebut turut dihadiri Ketua KIP Kota Lhokseumawe Abdul Hakim, S.E., M.S.M., para panelis, komisioner KIP se-Aceh, jajaran KPU, Panwaslih, akademisi, mahasiswa, serta pemerhati kepemiluan.

Agusni berharap forum tersebut dapat menjadi awal dari diskusi yang berkelanjutan mengenai sistem pemilu dan demokrasi, sekaligus memperkuat literasi kepemiluan di tengah masyarakat Aceh.

Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap mekanisme pemilu, setiap pemilih diharapkan tidak hanya mengetahui proses memberikan suara, tetapi juga memahami bagaimana suara tersebut diproses hingga menghasilkan keterwakilan politik.