Jakarta, PilarRakyatIndonesia.news – Pakistan mengecam serangan milisi Houthi Yaman terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Islamabad memperingatkan bahwa ancaman terhadap kepentingan maritim Pakistan di kawasan tersebut dapat dibalas dengan penggunaan kekuatan yang sah.

Pernyataan itu disampaikan Kementerian Luar Negeri Pakistan di tengah meningkatnya kekhawatiran konflik di Timur Tengah semakin meluas dan berdampak terhadap jalur pelayaran internasional.

Pakistan memiliki hubungan perdagangan dan keamanan yang erat dengan Arab Saudi. Kapal berbendera Pakistan juga rutin berlabuh di sejumlah pelabuhan Arab Saudi yang berada di kawasan Laut Merah.

Hubungan kedua negara semakin diperkuat setelah Pakistan dan Arab Saudi menandatangani perjanjian pertahanan bersama pada September tahun lalu. Kesepakatan tersebut memuat klausul keamanan kolektif yang pada prinsipnya memandang serangan terhadap salah satu negara sebagai ancaman terhadap keduanya.

Pakistan Tegaskan Komitmen kepada Arab Saudi

Setelah Houthi meluncurkan rudal ke wilayah selatan Arab Saudi pada pekan lalu, Kementerian Luar Negeri Pakistan menegaskan kembali komitmennya terhadap pakta keamanan dengan Riyadh.

Namun, posisi Pakistan tidak sederhana. Islamabad juga memiliki hubungan dengan Iran dan selama ini berupaya memainkan peran sebagai mediator dalam upaya mengakhiri konflik antara Iran dan Amerika Serikat.

Potensi keterlibatan militer Pakistan untuk membantu Arab Saudi menghadapi Houthi yang didukung Iran pun dapat menempatkan Islamabad dalam dilema diplomatik yang cukup serius.

Secara historis, Pakistan dan Arab Saudi memiliki hubungan militer dan strategis yang erat. Jenderal serta penasihat militer Pakistan diketahui telah memberikan dukungan dan pelatihan kepada Arab Saudi selama puluhan tahun.

Pakistan Bantah Pasukannya Berada di Yaman

Pakar Yaman dari Chatham House, Farea Al-Muslimi, mengatakan kepada DW bahwa pasukan Pakistan saat ini berada di Yaman untuk mendukung Arab Saudi, khususnya dalam tugas keamanan dan pelatihan bersama pasukan Saudi.

Namun, seorang pejabat Pakistan yang diwawancarai DW membantah klaim tersebut.

Meski demikian, potensi permintaan bantuan dari Riyadh tetap terbuka apabila serangan Houthi terhadap kapal tanker minyak dan pelayaran komersial di Laut Merah semakin meningkat.

Peneliti senior Atlantic Council, Michael Kugelman, menilai hubungan pertahanan Pakistan dan Arab Saudi membuat permintaan bantuan militer tersebut cukup mungkin terjadi apabila tekanan keamanan terhadap Riyadh semakin besar.

Islamabad Berada di Tengah Dua Kepentingan

Situasi menjadi semakin kompleks karena hubungan Pakistan dengan Iran juga mengalami perbaikan setelah sempat memanas pada 2024 akibat serangan rudal lintas batas kedua negara.

Pakistan kini berusaha menjaga hubungan dengan Teheran sekaligus mempertahankan kemitraan strategis dengan Riyadh.

Analis militer Pakistan dan peneliti senior King's College London, Ayesha Siddiqa, mengatakan Pakistan sebelumnya telah beberapa kali memperingatkan Iran bahwa jika terjadi konflik, Islamabad akan mendukung Arab Saudi.

Sementara itu, Kugelman menilai dukungan militer terbatas kepada Arab Saudi belum tentu membuat Pakistan memutus hubungan dengan Iran. Namun, peningkatan dukungan persenjataan kepada Riyadh berpotensi meningkatkan kecurigaan Teheran dan mengganggu posisi Pakistan sebagai mediator.

Dengan meningkatnya serangan terhadap kapal komersial di Laut Merah, Pakistan kini menghadapi dilema antara menjaga komitmen pertahanan dengan Arab Saudi dan mempertahankan hubungan diplomatik dengan Iran.

Perkembangan situasi tersebut menjadi perhatian karena keterlibatan langsung Pakistan berpotensi memperluas dimensi konflik dan meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.