Jakarta, PilarRakyatIndonesia.news โ€“ Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2,5 persen pada akhir perdagangan Senin (31/8/2026) waktu setempat atau Selasa (1/9/2026) pagi WIB. Kenaikan tersebut terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat dalam serangan militer yang memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 2,39 dolar AS atau 2,71 persen menjadi 90,49 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 2,36 dolar AS atau 2,83 persen menjadi 85,76 dolar AS per barel.

Harga Brent bahkan sempat menyentuh 91,52 dolar AS per barel selama perdagangan. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 25 Agustus 2026.

Serangan AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasokan

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Iran meluncurkan rudal ke dua pangkalan militer AS di Yordania pada Minggu malam. Serangan tersebut disebut sebagai respons Iran terhadap serangan AS ke Pulau Larak, Iran.

Presiden AS Donald Trump merespons perkembangan tersebut dengan pernyataan keras.

โ€œKami akan menghantam mereka dengan keras. Akan ada balasan,โ€ kata Trump, sebagaimana dikutip Fox News.

Pasar minyak kini mencermati perkembangan konflik AS dan Iran, terutama apakah ketegangan akan kembali mereda atau justru meningkat menjadi eskalasi yang lebih luas.

Sebelumnya, Trump melalui unggahan di media sosial menyebut pusat energi Iran di Pulau Kharg sedang โ€œdihancurkan hingga berkeping-kepingโ€. Namun, tidak terdapat bukti bahwa pulau tersebut benar-benar telah diserang.

Iran juga membantah adanya serangan terhadap Pulau Kharg dan menyatakan aktivitas operasi minyak di wilayah tersebut masih berlangsung.

Wakil Presiden AS JD Vance pada Senin mengatakan unggahan Trump tersebut merupakan pesan yang ditujukan kepada Iran.

Selat Hormuz Jadi Perhatian Pasar

Selain aksi militer, pasar energi global juga mencermati kondisi Selat Hormuz. Jalur perairan strategis tersebut sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang dimulai pada akhir Februari.

Mediator masih berupaya mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, proses tersebut masih menghadapi kebuntuan.

Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal komoditas yang terlihat melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan turun menjadi sekitar lima kapal per hari.

Analis Gelber & Associates menyebut sebagian pasokan minyak dari kawasan Teluk masih bergerak melalui selat tersebut sehingga kenaikan harga minyak relatif tertahan. Namun, serangan militer langsung kembali membuat pasar memperhitungkan risiko gangguan pasokan dalam jangka pendek.

Cadangan Minyak Strategis AS Tertekan

Di tengah kekhawatiran pasokan global, sentimen pasar sedikit mereda setelah Presiden Trump menyatakan minyak yang diperoleh melalui kesepakatan dengan Venezuela akan digunakan untuk mengisi kembali cadangan minyak strategis Amerika Serikat atau Strategic Petroleum Reserve (SPR).

Cadangan minyak strategis AS saat ini telah mendekati level terendah dalam 44 tahun. Pada pekan lalu, persediaan minyak mentah di SPR tercatat turun sekitar 3,1 juta barel menjadi 286,6 juta barel.

Selain itu, sejumlah perusahaan energi disebut akan segera menandatangani kesepakatan final terkait proyek energi di Venezuela setelah menjalani negosiasi selama beberapa bulan.

Perusahaan yang disebut terlibat antara lain Chevron dan GE Vernova dari AS, ONGC dari India, Eni dari Italia, serta GeoPark dari Kolombia.

Kesepakatan tersebut dinilai berpotensi meningkatkan pasokan minyak sekaligus membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global akibat konflik AS dan Iran.

Pergerakan harga minyak selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan konflik kedua negara serta kondisi lalu lintas energi di Selat Hormuz.