Jakarta, Pilarrakyatindonesia.news β Zambia menggelar pemilihan presiden pada Kamis (13/8/2026). Presiden petahana Hakainde Hichilema dari Partai Persatuan Pembangunan Nasional (UPND) berupaya mempertahankan kekuasaan untuk periode kedua di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat.
Sebanyak 8,79 juta pemilih terdaftar akan memberikan suara untuk memilih satu dari 14 kandidat presiden. Pesaing utama Hichilema adalah Brian Mundubile yang maju dari koalisi oposisi Tonse Alliance.
Pemilu kali ini menjadi ujian bagi pemerintahan Hichilema setelah sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perbaikan, tetapi manfaat pemulihan tersebut dinilai belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat.
Inflasi Turun, Beban Hidup Masih Tinggi
Pemerintah Hichilema mengklaim berhasil menekan inflasi tahunan menjadi 6,8 persen pada April 2026, turun dari level dua digit yang sempat terjadi beberapa tahun sebelumnya.
Namun, penurunan inflasi belum sepenuhnya menghilangkan tekanan terhadap rumah tangga. Harga pangan, bahan bakar, dan listrik masih menjadi beban bagi masyarakat.
Sekitar 60 persen penduduk Zambia masih hidup di bawah garis kemiskinan nasional, sehingga kondisi ekonomi menjadi salah satu isu utama yang dapat memengaruhi pilihan pemilih.
Sektor pertambangan juga menjadi perhatian. Tembaga menyumbang sekitar 70 persen pendapatan ekspor Zambia serta lebih dari 10 persen produk domestik bruto negara tersebut.
Pemerintah menargetkan produksi tembaga mencapai tiga juta ton per tahun. Namun, peningkatan produksi dan harga komoditas dinilai belum memberikan dampak yang cukup besar terhadap kesejahteraan masyarakat.
Pemilih Pertanyakan Dampak Reformasi
Pendiri Free Press Initiative sekaligus aktivis hak asasi manusia dan jurnalis, Joan Chirwa, mengatakan perhatian pemilih kini tidak hanya tertuju pada indikator ekonomi makro.
Menurutnya, pertanyaan utama masyarakat adalah apakah reformasi ekonomi yang dilakukan pemerintah sudah memberikan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
"Pertanyaan sentral yang muncul dari pemilih kian besar adalah apakah reformasi ekonomi ini sudah berubah menjadi perbaikan nyata," ujar Chirwa.
Ia menilai siapa pun yang memenangkan pemilu akan menghadapi tantangan untuk memastikan peningkatan pendapatan dari sektor pertambangan benar-benar dirasakan masyarakat luas.
Analis risiko politik Built Africa, Wellington Muzengeza, juga menilai kesenjangan antara perbaikan ekonomi secara makro dan kondisi masyarakat menjadi faktor penting dalam pemilu kali ini.
"Pemilu ini kemungkinan besar dibentuk oleh kesenjangan antara pemulihan makroekonomi dan pengalaman warga biasa," kata Muzengeza.
Kemiskinan Jadi Isu Utama
Dosen ilmu politik Tshwane University of Technology, Levy Ndou, mengatakan partai politik harus memberikan perhatian serius kepada kelompok masyarakat yang masih hidup dalam kemiskinan.
Menurutnya, sekitar 60 persen populasi Zambia yang berada di bawah garis kemiskinan merupakan kelompok penting yang dapat menentukan arah hasil pemilu.
"Partai politik perlu berfokus pada 60 persen populasi yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional," ujar Ndou.
Pemilu Zambia 2026 berlangsung di tengah perhatian terhadap kondisi ekonomi, tata kelola pemerintahan, dan kualitas demokrasi di kawasan Afrika bagian selatan.
Komisi Pemilihan Umum Zambia bertanggung jawab melakukan penghitungan dan verifikasi suara dari seluruh provinsi. Hasil resmi pemilihan presiden diperkirakan diumumkan beberapa hari setelah proses pemungutan suara selesai.
Bagi Hichilema, pemilu ini menjadi ujian untuk melihat apakah kebijakan ekonomi pemerintah selama periode pertama mampu meyakinkan masyarakat bahwa pemulihan ekonomi telah memberikan manfaat nyata bagi kehidupan mereka.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar