Jakarta, PilarRakyatIndonesia.news β Tim penyelamat berpacu dengan waktu untuk mencari lebih dari 1.000 orang yang masih hilang setelah banjir bandang dan longsor menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet, Rabu (26/8/2026). Bencana dahsyat tersebut menyapu permukiman, kendaraan, bangunan, serta jalur yang menjadi akses penting menuju sejumlah kawasan wisata di Himalaya.
Di sisi Nepal, sedikitnya 162 jenazah telah ditemukan oleh kepolisian. Sementara di sisi China, media pemerintah melaporkan tiga orang tewas dan 558 orang masih hilang akibat longsor lumpur di Pelabuhan Gyirong, Tibet. Dari jumlah tersebut, sekitar 260 orang merupakan warga negara asing.
Jumlah korban yang belum ditemukan di kedua sisi perbatasan pun telah melampaui 1.000 orang. Di Nepal, Kementerian Pariwisata melaporkan 468 wisatawan belum diketahui keberadaannya, termasuk 393 warga negara asing.
Wisatawan yang dilaporkan hilang berasal dari sejumlah negara, antara lain India, Australia, Inggris, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.
Banjir Dahsyat seperti Tsunami di Daratan
Kekuatan bencana terekam melalui kamera pengawas di wilayah China. Dalam rekaman tersebut, terlihat dinding besar lumpur dan material longsoran menerjang bangunan bertingkat. Arus deras juga terlihat menyeret kendaraan dan berbagai material di sekitarnya.
Di Nepal, material lumpur dan longsoran mengalir melalui jalur Sungai Bhote Koshi dan Trishuli. Sejarawan lingkungan dari La Trobe University, Ruth Gamble, menggambarkan fenomena tersebut seperti tsunami yang terjadi di daratan.
Material banjir dilaporkan bergerak hampir 170 kilometer menyusuri Lembah Bhote Koshi menuju wilayah Nepal bagian tengah. Kawasan tersebut merupakan salah satu jalur yang banyak digunakan wisatawan internasional yang melakukan perjalanan dari Kathmandu menuju Lhasa.

βSeluruh desa dan kawasan pasar telah tersapu,β kata David Fisher, Kepala Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) di Nepal.
IFRC turut mengirimkan bantuan darurat berupa selimut, perlengkapan pertolongan pertama, tandu, dan kantong jenazah untuk mendukung operasi penanganan bencana.
USGS Pastikan Bukan Gempa
Penyebab bencana sempat menimbulkan kebingungan setelah aktivitas seismik tercatat sebelum banjir dan longsor terjadi. Namun, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyimpulkan bahwa gempa bumi bukan pemicu utama bencana tersebut.
Aktivitas seismik yang sebelumnya dilaporkan sebagai gempa berkekuatan magnitudo 4,4 diketahui berkaitan dengan runtuhnya gletser yang kemudian memicu aliran material atau debris flow.
Berdasarkan analisis data stasiun seismik, gelombang seismik periode panjang, serta citra satelit, USGS menyatakan peristiwa tersebut menimbulkan dampak katastrofik di wilayah hilir Nepal dan Tibet.
Peristiwa seismik tersebut tercatat dengan magnitudo 5,2 di sekitar perbatasan Nepal-China pada Rabu sekitar pukul 08.37 waktu setempat.
Ancaman Banjir Susulan

Operasi penyelamatan masih menghadapi ancaman lanjutan. Para ahli memperingatkan kemungkinan terjadinya banjir susulan akibat adanya material yang menyumbat aliran sungai di bagian hulu kawasan perbatasan Nepal-China.
Qianggong Zhang, Kepala Risiko Iklim dan Lingkungan di International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD), mengatakan sumbatan tersebut berpotensi memicu banjir kedua apabila runtuh.
Selain faktor kondisi geografis, perubahan iklim juga dinilai meningkatkan risiko bencana yang berkaitan dengan gletser. Kenaikan suhu global menyebabkan pencairan gletser di berbagai wilayah, yang pada kondisi tertentu dapat meningkatkan potensi runtuhnya gletser dan memicu banjir besar.
Ratusan Personel Dikerahkan
Operasi pencarian dan penyelamatan dilakukan secara intensif di kedua sisi perbatasan. Pemerintah Tibet mengerahkan hampir 800 personel tanggap darurat, sekitar 150 kendaraan, anjing pelacak, serta perahu cepat untuk membantu pencarian korban.
Di Nepal, personel militer melakukan penerbangan untuk mengevakuasi warga dan membantu korban yang terdampak. Warga yang tinggal di sepanjang sungai di wilayah rawan juga diminta segera berpindah ke tempat yang lebih aman.
Presiden China Xi Jinping menegaskan bahwa pencarian dan penyelamatan orang-orang yang masih hilang menjadi prioritas utama pemerintah.
Sementara itu, otoritas lalu lintas di Shigatse, Tibet, memperingatkan masyarakat mengenai kondisi sejumlah ruas jalan yang berisiko terkena longsor dan belum aman untuk dilalui.
Jalur Wisata Himalaya Terdampak
Bencana terjadi ketika kawasan Himalaya masih menjadi tujuan wisatawan dan peziarah dari berbagai negara. Salah satu kawasan yang terdampak adalah Syabrubesi, yang menjadi pintu masuk menuju sejumlah jalur pendakian populer.
Banjir juga menerjang jalur yang digunakan peziarah menuju kawasan kaki Gunung Kailash, yang memiliki nilai spiritual penting bagi umat Buddha dan Hindu.
Meskipun musim monsun berlangsung pada Juni hingga September dan sebagian perusahaan pendakian biasanya mengurangi aktivitas tur selama periode tersebut, sejumlah wisatawan dan peziarah masih berada di kawasan Himalaya.
Hingga kini, tim penyelamat masih terus menyisir wilayah terdampak untuk mencari korban yang hilang. Operasi dilakukan dengan kewaspadaan tinggi karena ancaman longsor dan kemungkinan banjir susulan masih membayangi kawasan perbatasan Nepal-Tibet.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar