Jakarta, PilarRakyatIndonesia.news β Inflasi konsumen Australia meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Juli 2026. Kenaikan harga bahan bakar dan biaya perjalanan menjadi pendorong utama, sementara inflasi inti yang juga berada di atas ekspektasi meningkatkan risiko kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia (RBA).
Melansir Reuters, data Australian Bureau of Statistics (ABS) yang dirilis Rabu (26/8/2026) menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) Australia naik 1 persen pada Juli dibandingkan bulan sebelumnya. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan ekonom sebesar 0,8 persen.
Kenaikan inflasi bulanan terutama dipengaruhi lonjakan harga bahan bakar yang meningkat 7,5 persen pada Juli. Kenaikan tersebut terjadi setelah harga bahan bakar sebelumnya mengalami penurunan selama tiga bulan berturut-turut.
Secara tahunan, inflasi Australia sebenarnya melambat menjadi 3,5 persen pada Juli dari 3,8 persen pada Juni. Namun, angka tersebut masih berada di atas perkiraan pasar sebesar 3,3 persen.
Inflasi Inti Ikut Meningkat
Tekanan harga juga tercermin dari indikator inflasi inti yang menjadi salah satu perhatian utama RBA. Trimmed mean meningkat 0,5 persen secara bulanan pada Juli, menjadi kenaikan terbesar dalam satu tahun dan lebih tinggi dari perkiraan ekonom sebesar 0,3 persen.
Secara tahunan, inflasi trimmed mean tercatat sebesar 3,6 persen.
Head of Investments and Capital Markets VanEck, Russel Chesler, menilai data tersebut memperbesar kemungkinan RBA kembali menaikkan suku bunga tahun ini.
βDengan hasil inflasi ini, kami menilai setidaknya masih akan ada satu kenaikan suku bunga RBA tahun ini untuk meredam inflasi,β kata Chesler.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga RBA Menguat
Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan langsung memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Australia.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga RBA pada September mencapai 27 persen, meningkat dari 17 persen sebelum data inflasi Juli dirilis.
Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga paling lambat pada Februari 2027 diperkirakan mencapai 80 persen.
RBA sebelumnya mempertahankan suku bunga pada level 4,35 persen dalam pertemuan bulan ini. Keputusan tersebut menjadi kali kedua secara berturut-turut bank sentral mempertahankan suku bunga setelah sebelumnya menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini.
Para pembuat kebijakan RBA sebelumnya telah memperingatkan bahwa suku bunga dapat kembali dinaikkan apabila tekanan inflasi kembali meningkat.
RBA sebelumnya memperkirakan inflasi trimmed mean akan melambat menjadi 3,3 persen pada akhir 2026. Namun, data Juli yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan risiko bahwa proses penurunan inflasi berlangsung lebih lambat dari perkiraan.
Dolar Australia Menguat
Di pasar valuta asing, dolar Australia merespons data inflasi dengan menguat tipis. Mata uang tersebut naik 0,1 persen menjadi sekitar US$0,7171.
Sementara itu, kontrak berjangka obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun memangkas sebagian penguatan sebelumnya dan berada di level 95,44.
Pergerakan pasar tersebut menunjukkan investor mulai memperhitungkan kemungkinan RBA mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama untuk memastikan tekanan inflasi benar-benar mereda.
Data inflasi Juli menjadi perhatian penting bagi RBA karena bank sentral harus menyeimbangkan upaya mengendalikan inflasi dengan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi Australia. Jika tekanan harga terus bertahan di atas target, peluang pengetatan kebijakan moneter kembali terbuka.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar