Jakarta, PilarRakyatIndonesia.news – Para ilmuwan memperingatkan ancaman serius terhadap Great Barrier Reef di Australia. Terumbu karang terbesar di dunia itu dinilai berisiko mengalami pemutihan karang (coral bleaching) secara parah dan meluas seiring meningkatnya suhu laut dan menguatnya fenomena El Niño.
Peringatan tersebut disampaikan dalam Simposium Terumbu Karang Internasional di Auckland. Para peneliti menilai pemutihan ekstrem dapat menyebabkan kematian karang dalam area yang sangat luas, bahkan berpotensi menghilangkan spesies tertentu secara lokal serta merusak ekosistem di sejumlah bagian Great Barrier Reef.
Great Barrier Reef membentang sekitar 2.300 kilometer di lepas pantai Queensland, Australia timur laut. Kawasan ini dikenal sebagai struktur terbesar di Bumi yang dibangun oleh organisme hidup dan menjadi salah satu tujuan wisata utama Australia.
Terancam Pemutihan Parah
Pemutihan karang terjadi ketika suhu air laut berada pada tingkat yang terlalu tinggi dalam waktu yang cukup lama. Kondisi tersebut menyebabkan karang mengeluarkan alga mikroskopis yang hidup di dalam jaringan tubuhnya.
Alga tersebut memiliki peran penting karena memasok sebagian besar kebutuhan energi karang sekaligus memberikan warna khas pada koloni karang. Ketika alga hilang, karang berubah menjadi putih dan mengalami kekurangan nutrisi.
Karang masih memiliki peluang untuk pulih apabila suhu laut kembali normal dalam waktu relatif singkat. Namun, paparan panas yang berulang dan berkepanjangan dapat menyebabkan kematian karang dalam jumlah besar.
Fenomena El Niño Jadi Perhatian
Ahli ekologi konservasi laut dari James Cook University, Queensland, Morgan Pratchett, mengatakan kondisi El Niño tahun ini menjadi perhatian serius bagi para peneliti.
Menurutnya, terdapat kemungkinan besar Great Barrier Reef kembali menghadapi pemutihan karang massal dengan tingkat keparahan tinggi. Kondisi tersebut bahkan dapat memicu hilangnya spesies tertentu di sejumlah lokasi serta menyebabkan kerusakan ekosistem secara luas.
El Niño merupakan fenomena iklim alami yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudera Pasifik. Fenomena tersebut dapat mengubah pola angin, tekanan udara dan curah hujan di berbagai wilayah dunia.
Peningkatan suhu laut di sekitar Australia membuat risiko terjadinya periode panas laut berkepanjangan semakin tinggi. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama yang dapat memperparah pemutihan karang.
Kondisi Terumbu Sudah Melemah
Ancaman baru tersebut datang ketika kondisi Great Barrier Reef memang sudah mengalami tekanan berat. Tutupan karang keras di sejumlah kawasan mengalami penurunan akibat suhu laut yang berada di atas rata-rata dan memicu pemutihan massal.
Sejak 2016, Great Barrier Reef telah mengalami beberapa kali peristiwa pemutihan massal. Tekanan terhadap ekosistem juga semakin besar akibat pengasaman laut, yang terjadi ketika air laut menyerap karbon dioksida dari atmosfer.
Pengasaman laut dapat menyulitkan pertumbuhan dan pembentukan kerangka karang baru sehingga kemampuan terumbu untuk memulihkan diri ikut terancam.
Selain perubahan iklim, sejumlah faktor lain turut memberikan tekanan terhadap Great Barrier Reef, termasuk cuaca ekstrem, limpasan limbah pertanian dari wilayah pesisir Queensland, pembangunan kawasan pantai, serta serangan bintang laut berduri yang memangsa karang.
Ancaman bagi Ekosistem Dunia
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan UNESCO telah lama memberikan perhatian terhadap kondisi Great Barrier Reef. UNESCO bahkan melakukan pemantauan terhadap kawasan tersebut secara berkala di tengah kekhawatiran mengenai dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Profesor studi kelautan dari University of Queensland, Ove Hoegh-Guldberg, menilai kurangnya tindakan nyata untuk mengatasi perubahan iklim dapat mengancam masa depan terumbu karang di seluruh dunia.
Menurutnya, kerusakan yang terjadi pada Great Barrier Reef seharusnya menjadi peringatan mengenai dampak perubahan iklim yang lebih luas terhadap kehidupan di Bumi.
Ancaman terhadap Great Barrier Reef bukan hanya persoalan hilangnya keindahan alam. Kerusakan terumbu karang juga dapat mengganggu habitat berbagai spesies laut, rantai makanan, sektor perikanan, pariwisata, serta masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada ekosistem laut.
Para ilmuwan menilai semakin sering dan parahnya gelombang panas laut menjadi sinyal bahwa upaya perlindungan terumbu karang tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan alami karang untuk pulih. Pengurangan emisi gas rumah kaca dan perlindungan ekosistem laut dinilai menjadi langkah penting untuk mempertahankan terumbu karang bagi generasi mendatang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar