Jakarta, Pilarrakyatindonesia.news β Taiwan mulai menggelar latihan militer terbesar tahun ini pada Rabu (5/8/2026). Latihan tersebut menjadi bagian dari upaya Taipei memperkuat kesiapan militernya sekaligus mempersiapkan masyarakat menghadapi kemungkinan serangan atau invasi dari China.
Latihan tahunan yang dikenal dengan nama Han Kuang ini berlangsung selama 10 hari, mulai 5 hingga 14 Agustus 2026. Dalam latihan tersebut, militer Taiwan menjalankan berbagai skenario pertempuran, termasuk menghadapi kemungkinan serangan langsung ke wilayah pulau tersebut.
Pejabat pertahanan Taiwan menyebut latihan Han Kuang melibatkan pasukan aktif serta pasukan cadangan. Mereka dilatih untuk merespons berbagai skenario serangan dengan kondisi yang menyerupai situasi perang sebenarnya.
Tak hanya militer, masyarakat sipil Taiwan juga turut dilibatkan. Sejumlah simulasi dilakukan untuk menguji kesiapan warga menghadapi kondisi darurat, termasuk latihan serangan udara serta kemungkinan perlambatan sementara jaringan internet seluler.
Komando Militer Didesentralisasi
Salah satu fokus utama Han Kuang tahun ini adalah penerapan sistem komando dan kendali yang lebih terdesentralisasi.
Melalui skema tersebut, para komandan dan perwira di lapangan diberikan kewenangan untuk mengambil keputusan operasional secara cepat tanpa harus menunggu instruksi dari pusat.
Strategi ini dinilai penting untuk menghadapi kemungkinan gangguan komunikasi atau serangan terhadap pusat komando apabila konflik benar-benar terjadi.
Pada hari pertama latihan, puluhan pasukan cadangan dikerahkan ke sepanjang pantai yang menghadap Selat Taiwan. Mereka melakukan latihan menembak menggunakan senapan serbu buatan Taiwan ke sejumlah sasaran yang menggambarkan lokasi pendaratan pasukan musuh.
China Tingkatkan Tekanan Militer
Latihan Han Kuang digelar di tengah meningkatnya ketegangan antara Taiwan dan China.
Beijing mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, China juga meningkatkan aktivitas militernya di sekitar Taiwan. Jet tempur dan kapal perang China dilaporkan rutin beroperasi di sekitar pulau tersebut, disertai latihan militer dalam skala besar.
Aktivitas zona abu-abu juga semakin meningkat. Penjaga pantai China disebut memperluas aktivitasnya di sekitar Taiwan dan sejumlah pulau terluar, sebagai bagian dari tekanan yang berada di bawah ambang konflik bersenjata terbuka.
Presiden Taiwan Lai Ching-te menegaskan bahwa pemerintah akan terus memperkuat kemampuan pertahanan nasional.
"Seiring dengan terus meluasnya otoritarianisme CCP (Partai Komunis China), teror merah juga menyebar ke setiap sudut dunia," ujar Lai dalam sebuah forum keamanan menjelang dimulainya latihan.
Menurutnya, Taiwan akan terus meningkatkan pertahanan nasional sekaligus membangun ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman.
Perkuat Perang Asimetris
Taiwan dalam beberapa tahun terakhir juga meningkatkan anggaran pertahanannya dan memperkuat persenjataan yang dinilai lebih sesuai untuk menghadapi konflik dengan kekuatan militer yang jauh lebih besar.
Salah satu fokusnya adalah pengadaan persenjataan berukuran lebih kecil dan mudah bergerak, termasuk drone.
Penguatan tersebut diarahkan untuk membangun kemampuan perang asimetris, yakni strategi yang memungkinkan Taiwan memanfaatkan teknologi, mobilitas, serta sistem pertahanan yang tersebar untuk menghadapi kekuatan militer China.
Dengan latihan Han Kuang 2026, Taiwan tidak hanya menguji kesiapan militernya, tetapi juga berupaya memastikan masyarakat sipil memiliki kemampuan untuk bertahan dan merespons apabila situasi keamanan di kawasan berubah menjadi konflik terbuka.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar