JAKARTA β€” Keluhan nyeri punggung dan pinggang pada kelompok usia produktif, khususnya pekerja berusia 20 hingga 40-an tahun, tidak boleh selalu dianggap sebagai pegal biasa akibat kelelahan. Pola kerja yang mengharuskan seseorang duduk berjam-jam di depan komputer, kurangnya aktivitas fisik, serta kebiasaan menjaga postur tubuh yang kurang tepat dapat meningkatkan risiko gangguan pada struktur tulang belakang, termasuk saraf kejepit.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena saraf kejepit tidak hanya dialami oleh kelompok lanjut usia, tetapi juga dapat menyerang orang-orang yang masih aktif bekerja. Jika tidak dikenali dan ditangani dengan tepat, gangguan ini berpotensi menyebabkan nyeri berkepanjangan, penurunan produktivitas, hingga kerusakan fungsi saraf.

Dokter Spesialis Bedah Saraf Lamina Hospital, dr. Faisal, M.Ked (Neurosurg), Sp.BS, FINPS, FINSS, mengungkapkan bahwa dirinya semakin sering menangani pasien berusia muda dengan keluhan saraf kejepit, termasuk kasus dengan tingkat keparahan yang cukup tinggi.

β€œPenyebab utamanya bukan lagi penuaan alami, melainkan mikrotrauma yang menumpuk bertahun-tahun akibat beban mekanis kronis pada tulang belakang yang tidak disadari sejak dini,” ungkap Faisal dalam keterangannya pada Kamis (8/10/2026).

Saraf Kejepit Tidak Hanya Menyerang Lansia

Secara medis, bantalan tulang belakang atau diskus intervertebralis berfungsi meredam tekanan sekaligus membantu menjaga fleksibilitas tulang belakang. Pada usia muda, bantalan tersebut umumnya masih memiliki kandungan air yang tinggi dan bersifat elastis.

Namun, tekanan mekanis yang terjadi berulang kali dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan luar bantalan tulang belakang. Kondisi ini dapat diperburuk oleh gaya hidup sedentari atau kebiasaan kurang bergerak, terutama pada pekerja yang menghabiskan sebagian besar waktunya dalam posisi duduk.

Kerusakan tersebut memungkinkan bagian inti bantalan tulang belakang, yang dikenal sebagai nucleus pulposus, menonjol keluar dan menekan saraf di sekitarnya. Tekanan inilah yang dapat memicu nyeri, kesemutan, kebas, hingga kelemahan pada bagian tubuh tertentu.

Karena itu, keluhan pada tulang belakang perlu mendapatkan perhatian sejak awal, terutama apabila muncul berulang kali atau disertai gejala yang menjalar ke lengan maupun kaki.

Kebiasaan Kerja Menjadi Salah Satu Faktor Risiko

Kebiasaan sehari-hari selama bekerja menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan untuk menjaga kesehatan tulang belakang. Duduk terlalu lama tanpa diselingi gerakan dapat meningkatkan beban pada diskus tulang belakang, khususnya di bagian pinggang.

Selain itu, posisi membungkuk atau terlalu lama menunduk ketika menggunakan laptop dan ponsel dapat memengaruhi postur tubuh serta distribusi beban pada tulang belakang.

Faktor lain yang perlu diwaspadai adalah lemahnya otot inti atau core muscles. Kurangnya aktivitas fisik dapat membuat otot perut dan punggung tidak mampu menopang tubuh secara optimal sehingga beban lebih banyak diterima oleh sendi dan bantalan tulang belakang.

Teknik mengangkat barang yang keliru juga dapat meningkatkan risiko cedera. Mengangkat beban berat dengan membungkukkan punggung, tanpa menekuk lutut dan menjaga posisi tubuh, dapat menimbulkan tekanan mendadak pada tulang belakang.

Oleh sebab itu, pekerja perlu memperhatikan postur tubuh, mengatur durasi duduk, serta membangun kebiasaan bergerak secara teratur selama menjalankan aktivitas sehari-hari.

Kenali Gejala Saraf Kejepit Sejak Dini

Pada tahap awal, gejala saraf kejepit kerap disalahartikan sebagai kelelahan atau pegal setelah bekerja. Padahal, terdapat sejumlah tanda yang perlu diperhatikan, terutama apabila keluhan muncul berulang kali.

Gejala awal dapat berupa kesemutan atau kebas di area pinggang, leher, maupun belikat. Sensasi tersebut dapat terasa seperti tertusuk jarum halus dan muncul secara berkala.

Apabila tekanan pada saraf semakin mengganggu, rasa sakit dapat menjadi lebih kuat, terasa seperti terbakar atau tersengat listrik, serta menjalar ke bagian tubuh lain.

Salah satu kondisi yang dapat terjadi adalah sciatica, yaitu nyeri yang menjalar dari punggung bawah melalui bokong hingga paha, betis, dan kaki akibat iritasi atau tekanan pada saraf skiatik.

Pada tahap yang lebih serius, penderita dapat mengalami kelemahan otot, sering tersandung ketika berjalan, atau kesulitan menggenggam barang. Gejala tersebut perlu segera diperiksa oleh tenaga medis karena dapat menunjukkan adanya gangguan fungsi saraf.

Sementara itu, kebas pada area selangkangan atau sekitar bokong, terutama jika disertai kesulitan buang air kecil, tidak mampu mengontrol buang air kecil atau besar, maupun kelemahan kaki yang memburuk, merupakan tanda bahaya yang membutuhkan penanganan darurat. Gejala tersebut dapat berkaitan dengan Cauda Equina Syndrome, suatu kondisi yang memerlukan evaluasi medis segera.

Berdampak pada Produktivitas dan Kualitas Hidup

Saraf kejepit yang tidak ditangani dengan tepat dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Nyeri yang berlangsung lama dapat mengganggu konsentrasi, mengurangi kualitas tidur, serta membatasi kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Bagi pekerja usia produktif, kondisi tersebut juga berpotensi menurunkan kinerja dan produktivitas. Aktivitas sederhana, seperti duduk dalam waktu lama, berjalan, mengangkat barang, hingga menyelesaikan pekerjaan di depan komputer, dapat menjadi lebih sulit ketika rasa sakit terus berulang.

Selain dampak fisik, nyeri kronis juga dapat memengaruhi kondisi psikologis, termasuk meningkatkan kecemasan akibat gangguan aktivitas dan ketidaknyamanan yang berkepanjangan.

Dari sisi ekonomi, kondisi yang semakin berat berpotensi membutuhkan penanganan medis lebih kompleks serta waktu pemulihan yang lebih panjang. Pada kasus tertentu, tekanan saraf yang berlangsung lama dapat menyebabkan pengecilan otot atau atrofi dan gangguan fungsi yang menetap.

Karena itu, pemeriksaan sejak dini menjadi langkah penting untuk mengetahui penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai.

Langkah Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Tulang Belakang

Risiko gangguan tulang belakang dapat dikurangi melalui perubahan kebiasaan kerja dan aktivitas fisik. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menata area kerja agar lebih ergonomis.

Posisi layar komputer sebaiknya sejajar dengan mata, sedangkan kursi perlu memberikan dukungan yang memadai pada bagian pinggang. Kedua telapak kaki juga dianjurkan menapak rata di lantai agar posisi duduk lebih stabil.

Pekerja yang menghabiskan banyak waktu di depan layar dapat menerapkan prinsip micro-break, yakni mengambil jeda singkat dengan berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan ringan setiap 45–60 menit.

Selain itu, aktivitas fisik secara rutin dapat membantu menjaga kekuatan otot penyangga tubuh. Olahraga berdampak rendah, seperti berenang dan pilates, dapat menjadi pilihan sesuai kondisi fisik masing-masing. Latihan penguatan otot inti juga dapat dilakukan dengan teknik yang tepat.

Masyarakat yang mengalami nyeri punggung atau pinggang, kebas, maupun rasa sakit yang menjalar dan tidak kunjung membaik perlu berkonsultasi dengan tenaga medis. Pemeriksaan menjadi semakin penting apabila keluhan disertai kelemahan otot atau gangguan aktivitas sehari-hari.

Jika muncul gangguan kontrol buang air kecil atau besar, kebas di area selangkangan, maupun kelemahan kaki yang berkembang cepat, pasien perlu segera menuju instalasi gawat darurat.

Lamina Hospital Sediakan Layanan Tulang Belakang

Untuk mendukung pemeriksaan dan penanganan gangguan tulang belakang, Lamina Hospital menyediakan layanan kesehatan tulang belakang terpadu yang mencakup pemeriksaan fisik neurologis dan teknologi diagnostik, termasuk pemindaian MRI.

Penanganan diberikan berdasarkan kondisi masing-masing pasien, mulai dari terapi konvensional hingga tindakan minimal invasif apabila diperlukan.

Dalam keterangannya, Lamina Hospital juga menyebut penggunaan teknologi Joimax asal Jerman untuk prosedur minimal invasif pada kasus tertentu. Pendekatan tersebut ditujukan untuk mengurangi kerusakan jaringan dan perdarahan serta mendukung proses pemulihan pasien. Pilihan tindakan tetap ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan pertimbangan dokter.

Masyarakat yang membutuhkan informasi mengenai layanan saraf dan tulang belakang Lamina Hospital dapat menghubungi WhatsApp di nomor 0811-1443-599 atau mengunjungi situs resmi Lamina Hospital.

Pada akhirnya, nyeri punggung dan pinggang pada usia produktif tidak sebaiknya selalu dianggap sebagai pegal biasa. Memperbaiki kebiasaan kerja, menjaga aktivitas fisik, serta mengenali tanda bahaya sejak dini merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan tulang belakang dan mempertahankan produktivitas.