Jakarta, Pilarrakyatindonesia.news – Gelombang migran kembali mengguncang perbatasan Afrika dan Eropa. Ribuan migran memadati kota Fnideq, Maroko, yang berbatasan langsung dengan wilayah otonom Spanyol, Ceuta, dalam upaya memasuki Uni Eropa melalui jalur darat maupun laut.

Berdasarkan laporan Reuters, arus migran mulai bergerak menuju Ceuta sejak Kamis (30/7/2026) setelah berkumpul sejak malam sebelumnya di sekitar Fnideq. Televisi pemerintah Spanyol TVE melaporkan sekitar 2.000 hingga 3.000 migran berhasil memasuki Ceuta, sebagian besar sebelum tengah hari.

Ceuta bersama Melilla merupakan dua wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara yang menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan benua Afrika. Selama bertahun-tahun, kedua wilayah tersebut menjadi pintu masuk utama bagi para migran yang ingin mencapai Eropa.

Lonjakan migran mendorong pemerintah Spanyol mengerahkan tambahan personel militer dan kepolisian untuk memperkuat pengamanan di kawasan perbatasan. Di tengah situasi tersebut, otoritas setempat juga mengonfirmasi penemuan sembilan jenazah di wilayah Ceuta.

Meski akses resmi menuju perbatasan ditutup, kelompok-kelompok migran terus berupaya mencari jalur alternatif dengan menyusuri garis pantai, memanjat pagar pembatas, hingga berenang menuju wilayah Spanyol.

Salah seorang migran asal Tangier, Brahim, mengaku datang dengan harapan dapat memasuki Ceuta melalui gerbang perbatasan. Namun saat tiba, akses sudah ditutup oleh aparat keamanan.

Di antara ribuan orang yang mencoba menyeberang terdapat perempuan, anak-anak, warga Maroko, hingga migran dari negara-negara Sub-Sahara Afrika.

Aparat Maroko Kerahkan Meriam Air

Pemerintah Maroko turut memperketat pengamanan dengan mengerahkan truk meriam air dan memperbanyak personel di sejumlah titik perlintasan.

Pasukan keamanan beberapa kali membubarkan kelompok migran yang mencoba mendekati gerbang perbatasan. Bentrokan yang terjadi menyebabkan sejumlah kendaraan terbakar, termasuk sebuah bus dan tujuh mobil yang hangus di sekitar kawasan perbatasan.

Saksi mata melaporkan kerusakan masih terlihat di lokasi setelah aparat berupaya mengendalikan massa.

Migran Mengaku Nyaris Kehilangan Nyawa

Seorang migran yang enggan disebutkan namanya mengaku hampir kehilangan nyawa akibat desak-desakan saat ribuan orang mencoba menyeberang melalui jalur sempit di pesisir.

Ia menggambarkan situasi yang kacau ketika para migran saling mendorong dan terjatuh demi mencapai titik perbatasan.

Jalan-jalan menuju Fnideq dipenuhi ribuan orang, termasuk anak-anak di bawah umur. Sebagian berjalan kaki hingga larut malam, sementara lainnya memilih melewati jalur pegunungan untuk menghindari pemeriksaan aparat.

Sepanjang malam, aparat keamanan beberapa kali membubarkan kelompok migran yang mencoba melakukan penyeberangan massal. Namun, mereka kembali berkumpul di berbagai titik di sekitar kota.

Dipicu Kebijakan Migrasi Spanyol

Gelombang migran ini terjadi di tengah kebijakan migrasi Spanyol yang dinilai lebih terbuka dibandingkan sejumlah negara Eropa lainnya.

Pemerintah Spanyol sebelumnya meluncurkan program legalisasi yang memungkinkan sekitar 500.000 migran tanpa dokumen memperoleh status hukum. Kebijakan tersebut memicu lonjakan permohonan legalisasi yang dilaporkan mencapai dua kali lipat dari target awal.

Lonjakan arus migran terbaru kembali menyoroti tantangan pengelolaan perbatasan Uni Eropa, sekaligus memunculkan kekhawatiran terhadap meningkatnya risiko keselamatan para pencari suaka yang mencoba memasuki Eropa melalui jalur berbahaya.