Jakarta, Pilarrakyatindonesia.news β Harga minyak mentah dunia kembali melonjak tajam setelah meningkatnya ketegangan di kawasan Laut Merah. Minyak mentah Brent bahkan sempat menembus level psikologis USD100 per barel pada perdagangan Kamis (3/7/2026), dipicu laporan serangan terhadap dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi.
Berdasarkan data perdagangan internasional, harga Brent sempat menyentuh level di atas USD100 sebelum kembali bergerak di kisaran USD99,56 per barel pada pukul 13.40 GMT atau menguat sekitar 5,84 persen. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga mengalami kenaikan menjadi USD90,89 per barel, atau naik sekitar 4,68 persen.
Lonjakan harga dipicu oleh klaim kelompok Houthi di Yaman yang menyatakan telah melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi, yakni Incilia dan Layla. Kelompok tersebut menuding kedua kapal melanggar blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi yang sebelumnya mereka umumkan.
Hingga kini, klaim tersebut belum memperoleh konfirmasi independen dari pihak berwenang maupun operator kapal.
Di sisi lain, situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras kepada kelompok Houthi dan Iran. Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menyebut pihak yang terlibat akan menghadapi respons militer besar apabila ancaman terhadap jalur pelayaran terus berlanjut.
Para pelaku pasar menilai eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu distribusi minyak global. Kekhawatiran terbesar tertuju pada jalur pelayaran strategis di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab yang menjadi penghubung penting bagi ekspor energi dari kawasan Teluk.
Analis pasar energi dari PVM, John Evans, menjelaskan bahwa sebagian besar ekspor minyak Arab Saudi kini dialihkan melalui Pelabuhan Yanbu di pesisir barat Laut Merah setelah adanya gangguan pada jalur Selat Hormuz. Dalam kondisi normal, sekitar 75 persen ekspor minyak Saudi dikirim melalui jalur tersebut.
Menurut Evans, apabila kapal-kapal harus menghindari Laut Merah dan memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, waktu pengiriman menuju pasar Asia, khususnya China, dapat meningkat drastis dari sekitar 20 hari menjadi lebih dari 50 hari. Kondisi itu diperkirakan akan menambah biaya logistik sekaligus memperketat pasokan minyak di pasar internasional.
Sementara itu, data dari penyedia intelijen maritim Lloyd's List menunjukkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan. Volume lalu lintas kapal tercatat menyusut sekitar 57 persen dibandingkan pekan sebelumnya, memperlihatkan tingginya kehati-hatian pelaku industri terhadap risiko keamanan di kawasan.
Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan potensi terganggunya distribusi energi dunia, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan di Timur Tengah yang diperkirakan masih menjadi faktor utama penggerak harga minyak dalam beberapa waktu ke depan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar