Jakarta, Pilarrakyatindonesia.news β€” Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan terus memperkuat langkah strategis dalam mendorong hilirisasi komoditas perkebunan nasional. Salah satu upaya yang kini dipercepat adalah pengembangan industri pengolahan gula tumbu sebagai alternatif hilirisasi tebu yang mampu meningkatkan nilai tambah hasil panen petani sekaligus memperkuat pasokan gula nasional.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kunjungan kerja Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Abdul Roni Angkat, ke fasilitas produksi gula tumbu milik mitra petani Koperasi Perwira Cipta Mandiri di Desa Gegersimo, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Kunjungan tersebut bertujuan meninjau secara langsung proses produksi gula tumbu, mengevaluasi efektivitas kemitraan antara petani dan koperasi, serta memastikan penerapan standar pengolahan yang aman, higienis, dan memiliki daya saing di pasar.

Menurut Abdul Roni Angkat, pengembangan industri gula tumbu berbasis kemitraan menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pabrik gula besar. Melalui pengolahan tebu secara mandiri, petani dapat memperoleh nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi, memiliki fleksibilitas dalam mengelola hasil panen, serta menikmati pendapatan yang lebih stabil.

"Kementerian Pertanian berkomitmen penuh untuk terus mendampingi dan memfasilitasi para petani tebu rakyat agar mampu meningkatkan kelas usahanya. Pengolahan gula tumbu merupakan bukti nyata hilirisasi skala kerakyatan yang mampu memberikan kepastian pendapatan, menciptakan lapangan kerja lokal, serta memperkuat ketahanan ekonomi pedesaan secara signifikan," ujar Abdul Roni Angkat.

Untuk mendukung pengembangan industri tersebut, Direktorat Jenderal Perkebunan akan memperkuat pembinaan melalui pendampingan teknis, peningkatan sarana dan prasarana pengolahan, serta standardisasi mutu produk gula tumbu. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hasil produksi sehingga memenuhi kebutuhan pasar industri maupun konsumsi rumah tangga.

Kementerian Pertanian juga terus mendorong kolaborasi antara pemerintah, kelompok tani, dan koperasi pengolahan dalam membangun rantai pasok gula yang lebih kuat. Model kemitraan yang diterapkan Koperasi Perwira Cipta Mandiri di Rembang dinilai memiliki potensi menjadi contoh bagi daerah sentra tebu lainnya di Indonesia.

Dengan penguatan hilirisasi di tingkat petani, pemerintah optimistis industri gula berbasis masyarakat dapat menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat pasokan gula nasional sekaligus mendukung target swasembada gula secara berkelanjutan.

"Kami berharap model kemitraan pengelolaan gula tumbu di Desa Gegersimo ini dapat menjadi percontohan bagi daerah-daerah sentra tebu lainnya di Indonesia. Dengan hilirisasi yang tepat sasaran, petani tidak lagi sekadar menjadi penghasil bahan mentah, tetapi menjadi pelaku utama industri perkebunan yang berdaya saing," tutup Abdul Roni Angkat.