JAKARTA, Pilarrakyatindonesia.news β Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (28/7/2026) dan menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dinilai dapat meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent tercatat turun sebesar US$1,75 atau 1,98 persen menjadi US$86,61 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$1,26 atau 1,53 persen menjadi US$81,35 per barel. Kedua kontrak tersebut berada di level terendah sejak pertengahan Juli 2026.
Optimisme pasar muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington sedang melakukan pembicaraan yang berjalan positif dengan Iran.
"Kami sedang melakukan pembicaraan yang baik dengan Iran dan ada peluang untuk mencapai penyelesaian," ujar Trump.
Meski demikian, Trump menegaskan opsi militer tetap terbuka apabila jalur diplomasi gagal mencapai kesepakatan. Di sisi lain, Iran juga memperingatkan akan memberikan respons apabila kembali terjadi eskalasi konflik.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai penurunan harga minyak dipengaruhi harapan pasar terhadap membaiknya situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dari Timur Tengah.
Menurutnya, meskipun lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih berada di bawah kondisi normal, pasar mulai merespons positif pembicaraan baru antara Oman dan Iran mengenai mekanisme bersama dalam pengelolaan jalur pelayaran tersebut.
Seorang sumber di kawasan Teluk mengungkapkan Oman telah mengusulkan pembentukan mekanisme regional bersama untuk mengelola Selat Hormuz, termasuk skema biaya sukarela bagi kapal yang melintas.
Selain Selat Hormuz, perhatian pasar juga tertuju pada kondisi di Selat Bab el-Mandeb yang sebelumnya menjadi titik rawan akibat serangan kelompok Houthi di Yaman. Berdasarkan data pelacakan kapal, jumlah kapal yang melintasi jalur tersebut mulai meningkat dalam beberapa hari terakhir, memberikan sinyal membaiknya aktivitas pelayaran.
Namun demikian, risiko terhadap pasokan minyak global masih membayangi. Arab Saudi mengklaim berhasil menggagalkan serangan drone yang menargetkan fasilitas perminyakan di wilayahnya. Sementara kelompok Houthi mengaku menyerang jaringan Pipa Minyak East-West yang menghubungkan ladang minyak menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent berpotensi turun ke kisaran US$80 per barel pada akhir tahun apabila aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali normal pada kuartal IV 2026.
Meski begitu, bank investasi tersebut mengingatkan bahwa potensi gangguan di Laut Merah maupun ancaman terhadap infrastruktur energi Arab Saudi masih dapat memicu lonjakan harga minyak sewaktu-waktu.
Sementara dari sisi fundamental pasar, survei awal Reuters memperkirakan persediaan minyak mentah Amerika Serikat mengalami penurunan pada pekan lalu, meski stok produk distilat diperkirakan meningkat.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar