Jakarta, Pilarrakyatindonesia.news – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perekonomian Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun 2025 sebesar 5,12 persen, meski sedikit melambat dibandingkan kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menyampaikan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku pada kuartal II 2026 mencapai Rp6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat Rp3.576,2 triliun.

Selain tumbuh secara tahunan, ekonomi nasional juga meningkat 3,73 persen dibandingkan kuartal I 2026 (quarter to quarter/qtq). Sementara itu, secara kumulatif semester I 2026 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya (cumulative to cumulative/c-to-c), ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan 5,45 persen.

BPS mencatat hampir seluruh lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif. Hanya sektor pertambangan yang masih mengalami kontraksi akibat penurunan produksi sejumlah komoditas tambang.

Lima sektor utama penyumbang Produk Domestik Bruto, yaitu industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan, memberikan kontribusi sekitar 63,73 persen terhadap total PDB nasional.

Sektor dengan pertumbuhan tertinggi adalah pengadaan listrik dan gas yang meningkat 10,81 persen, didorong naiknya konsumsi listrik di sektor rumah tangga, bisnis, dan industri. Posisi berikutnya ditempati sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 10,60 persen, seiring meningkatnya tingkat hunian hotel dan aktivitas jasa boga yang turut didukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 6,97 persen berkat meningkatnya penggunaan layanan telekomunikasi di berbagai bidang, termasuk kesehatan, pendidikan, dan perdagangan.

Di sisi lain, sektor pertambangan mengalami kontraksi 1,64 persen. Penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya produksi komoditas seperti bauksit, timah, dan nikel, serta belum pulihnya operasional tambang bawah tanah Grasberg Block Cave di Papua Tengah pasca-longsor pada 2025.

Selain itu, pertambangan batu bara dan lignit terkontraksi 1,41 persen akibat penyesuaian kuota produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Adapun sektor minyak, gas, dan panas bumi turun 2,15 persen karena penurunan produktivitas sumur migas dan terbatasnya penemuan cadangan baru.

Dari sisi sumber pertumbuhan, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi 0,90 persen. Selanjutnya disusul sektor perdagangan sebesar 0,83 persen, konstruksi 0,62 persen, serta informasi dan komunikasi 0,48 persen.

Pertumbuhan industri pengolahan didukung meningkatnya permintaan domestik dan ekspor. Industri makanan dan minuman tumbuh 6,51 persen, industri barang logam, komputer, elektronik, optik, dan peralatan listrik naik 8,04 persen, sedangkan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional meningkat 4,99 persen.

Di sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, pertumbuhan mencapai 6,39 persen secara tahunan. Kinerja tersebut didorong meningkatnya aktivitas perdagangan, distribusi barang, serta penjualan kendaraan bermotor.