Jakarta, Pilarrakyatindonesia.newsΒ β Badan Gizi Nasional (BGN) mulai melakukan langkah tegas dalam pembenahan internal sejak dipimpin Kepala BGN, Sudaryono. Operasi bersih-bersih yang dilakukan mencakup penindakan terhadap pegawai yang melanggar disiplin hingga penutupan permanen ratusan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Usai rapat pimpinan di Kantor BGN, Jakarta, Senin (27/7/2026), Sudaryono menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentoleransi setiap bentuk pelanggaran yang dapat mengganggu kualitas pelayanan kepada masyarakat.
"Kami mencoba untuk bersih-bersih. Yang melanggar akan kami berikan sanksi," tegas Sudaryono.
Dalam langkah tersebut, BGN memberhentikan sebanyak 261 pegawai non-ASN, yang terdiri dari 224 pegawai non-ASN dan 37 tenaga ahli. Selain itu, terdapat sembilan ASN dan PPPK yang tengah diproses untuk pemecatan karena diduga melakukan pelanggaran disiplin berat.
Tak hanya itu, 39 ASN lainnya dijatuhi sanksi disiplin ringan berupa mutasi, demosi, hingga sanksi administrasi sesuai tingkat pelanggaran yang dilakukan.
Di sektor pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, BGN juga mengambil tindakan tegas dengan menghentikan operasional 833 dapur MBG (SPPG) secara permanen. Keputusan tersebut diambil setelah pengelola dapur dinilai tidak melakukan perbaikan meski telah diberikan kesempatan dan tenggat waktu.
Mayoritas dapur ditutup karena tidak memenuhi standar higienitas, sanitasi, kualitas makanan, hingga pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dinilai berisiko terhadap keselamatan penerima manfaat.
Sebaran dapur yang ditutup meliputi 98 dapur di Sumatera, 311 dapur di Jawa dan Madura, serta 424 dapur di wilayah Kalimantan hingga Papua.
Sudaryono memastikan dapur yang ditutup permanen tidak lagi menerima pembayaran maupun kompensasi dari pemerintah karena terbukti melakukan pelanggaran tata kelola.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak diukur dari banyaknya makanan yang disajikan, melainkan dari kualitas gizi yang diterima masyarakat.
"Program ini adalah Makan Bergizi Gratis, bukan makan enak gratis atau makan banyak gratis. Tolok ukurnya adalah kecukupan gizi, menu yang tersaji dengan baik, serta mampu menggerakkan ekonomi lokal," ujarnya.
Untuk memastikan layanan tetap berjalan, distribusi makanan dari dapur yang ditutup akan dialihkan ke SPPG lain yang berada di sekitar sekolah terdampak sehingga para penerima manfaat tetap memperoleh layanan tanpa gangguan.
Langkah tegas ini menjadi bagian dari komitmen BGN memperkuat tata kelola Program Makan Bergizi Gratis agar lebih transparan, akuntabel, serta mampu menghadirkan layanan berkualitas bagi masyarakat.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar