Jakarta, PilarrakyatindonesiaΒ β Ketegangan antara UEFA dan FIFA memanas setelah badan sepak bola Eropa itu mengancam memboikot seluruh kompetisi di bawah naungan FIFA, termasuk Piala Dunia, jika rencana pelibatan investor swasta dalam pengelolaan turnamen tetap dijalankan.
Dalam pernyataan resminya pada Kamis (30/7/2026), UEFA menegaskan tidak ada satu pun tim nasional anggota mereka yang akan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA selama rencana tersebut belum dibatalkan secara permanen.
"Tidak ada tim nasional UEFA yang akan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA apa pun selama usulan ini tetap hidup, kecuali jika usulan ini telah dibatalkan secara keseluruhan dan ada jaminan mengikat bahwa FIFA tidak akan pernah lagi membuka tata kelola atau kompetisinya untuk kepemilikan swasta," tegas UEFA.
UEFA menilai rencana FIFA membuka kepemilikan saham pengelolaan turnamen kepada investor swasta bertentangan dengan nilai dasar sepak bola. Menurut mereka, Piala Dunia merupakan warisan olahraga yang dibangun selama puluhan tahun oleh pemain, tim nasional, dan para suporter di seluruh dunia, sehingga tidak boleh diperlakukan sebagai aset investasi.
"Bukan produk investasi. Piala Dunia tidak untuk dijual," tegas UEFA.
Presiden UEFA Aleksander Ceferin juga menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan tersebut. Ia menilai masa depan sepak bola tidak boleh ditentukan oleh kepentingan investor yang berorientasi pada keuntungan finansial.
Menurut Ceferin, kepentingan asosiasi nasional, liga, klub, pemain, hingga suporter tidak boleh dikalahkan demi tingkat pengembalian investasi. Ia menegaskan Eropa tidak akan memberikan legitimasi terhadap model bisnis yang membuka kepemilikan swasta atas kompetisi FIFA.
Selain substansi kebijakan, UEFA juga menyoroti proses penyusunan rencana tersebut yang dinilai tidak transparan. Organisasi itu menilai FIFA menyusun proposal secara tertutup tanpa konsultasi yang memadai dengan para pemangku kepentingan sepak bola.
Kontroversi ini bermula setelah FIFA mengumumkan rencana pembentukan anak perusahaan komersial bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) untuk mengelola turnamen-turnamen utamanya, termasuk Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub.
Melalui skema tersebut, investor swasta akan diizinkan memiliki saham minoritas di perusahaan yang mengelola aset komersial FIFA. Organisasi sepak bola dunia itu menargetkan memperoleh dana sekitar 4,2 miliar dolar AS dari valuasi perusahaan sebesar 20 miliar dolar AS.
FIFA menyatakan dana tersebut akan digunakan untuk meningkatkan pendanaan kepada seluruh 211 asosiasi anggota. Setiap anggota direncanakan menerima pembayaran awal sebesar 20 juta dolar AS pada 2027, sementara alokasi dana untuk periode 2027β2030 juga akan meningkat signifikan.
Presiden FIFA Gianni Infantino menyebut inisiatif tersebut sebagai langkah untuk mempercepat pertumbuhan sepak bola global. Namun, rencana itu justru memicu penolakan dari sejumlah federasi dan otoritas olahraga.
Selain UEFA, pejabat Uni Eropa turut menyatakan dukungan terhadap sikap badan sepak bola Eropa tersebut. Komisioner Olahraga Uni Eropa Glenn Micallef menyebut UEFA telah menunjukkan kepemimpinan dalam menjaga tata kelola dan integritas olahraga.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF), Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), serta Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF). Mereka menilai rencana FIFA perlu dikaji secara menyeluruh karena berpotensi mengubah tata kelola sepak bola dunia dan memunculkan konflik kepentingan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar