JAKARTA, Pilarrakyatindonesia.news β Pusat Robotika Rakyat Indonesia (PRO-RI) bersama para praktisi ketahanan pangan mendorong transformasi sektor pertanian nasional melalui penerapan teknologi smart farming, robotika, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang dipadukan dengan sistem koperasi syariah. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian, menekan biaya produksi, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Podcast Rakyat Indonesia bertajuk βGoals Kementerian Pertanian untuk Ekspor Beras, Penjelasan dari Eksekutor Ketahanan Panganβ yang menghadirkan Sekretaris Jenderal PRO-RI Muhammad Id, Praktisi Ketahanan Pangan Berbasis Ekonomi Syariah Iman Triatna, serta Koordinator Pengadaan Lahan sekaligus Eksekutor Ketahanan Pangan, Alwi.
Dalam diskusi tersebut, para narasumber menyoroti pentingnya modernisasi pertanian sebagai strategi untuk memperkuat kedaulatan pangan Indonesia sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda.
Smart Farming Jadi Strategi Modernisasi Pertanian
Sekretaris Jenderal PRO-RI, Muhammad Id, menjelaskan bahwa penerapan robotika dalam sektor pertanian tidak hanya berkaitan dengan penggunaan mesin otomatis, tetapi juga mencakup mekanisasi dan digitalisasi proses produksi dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, teknologi dapat dimanfaatkan mulai dari pembibitan, penyemaian, pemupukan menggunakan pesawat nirawak atau drone, pemantauan lahan, hingga pengelolaan distribusi hasil panen. Integrasi teknologi tersebut diharapkan membuat kegiatan pertanian lebih efisien, terukur, dan produktif.
Muhammad Id menilai transformasi dari metode konvensional menuju pertanian modern merupakan langkah penting untuk memperkuat kemandirian pangan nasional. Ia juga menyoroti potensi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor pangan dan memperkuat posisinya sebagai negara produsen pangan.
Upaya tersebut, lanjutnya, sejalan dengan agenda pembangunan pemerintah melalui Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Teknologi Berpotensi Meningkatkan Produktivitas dan Menekan Biaya
Praktisi Ketahanan Pangan Berbasis Ekonomi Syariah, Iman Triatna, menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi modern berpotensi meningkatkan hasil produksi pertanian secara signifikan apabila didukung pengelolaan lahan, varietas unggul, ketersediaan air, serta teknik budidaya yang tepat.
Dalam diskusi tersebut, Iman memaparkan potensi peningkatan hasil panen dari kisaran 6β7 ton per hektare dengan metode konvensional hingga 30 ton per hektare melalui penerapan teknologi yang lebih intensif.
Angka tersebut merupakan potensi yang disampaikan dalam diskusi dan memerlukan pembuktian melalui uji lapangan untuk mengetahui kesesuaiannya dengan kondisi lahan, jenis tanaman, serta metode budidaya yang digunakan.
Peningkatan produktivitas diharapkan dapat menekan biaya produksi per satuan hasil panen. Dengan demikian, petani berpeluang memperoleh keuntungan yang lebih baik, sementara efisiensi rantai pasok dapat mendukung ketersediaan pangan dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Iman juga menekankan pentingnya membangun sistem distribusi dan pembiayaan pertanian melalui koperasi syariah. Sistem ini dirancang dengan prinsip keadilan, transparansi, serta pembagian keuntungan dan risiko usaha sesuai kesepakatan para anggota.
Melalui pendekatan tersebut, koperasi syariah diharapkan dapat menjadi wadah bagi petani untuk memperkuat permodalan, mengelola hasil panen, dan memperluas akses pasar tanpa mengabaikan prinsip-prinsip ekonomi syariah.
Pilot Project Disiapkan di Banten dan Sejumlah Wilayah
Sebagai langkah awal, program percontohan ketahanan pangan berbasis teknologi dan koperasi syariah direncanakan dilaksanakan di sembilan titik di wilayah Banten.
Program tersebut selanjutnya diarahkan untuk dikembangkan ke sejumlah wilayah lain, termasuk Purwakarta dan Sukabumi di Jawa Barat, serta beberapa daerah di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.
Pengembangan program akan bergantung pada kesiapan lahan, dukungan infrastruktur, ketersediaan sumber daya manusia, pembiayaan, serta kesesuaian teknologi dengan kondisi pertanian setempat.
Koordinator Pengadaan Lahan sekaligus Eksekutor Ketahanan Pangan, Alwi, menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pengembangan pertanian modern.
Ia mengajak generasi milenial dan pemuda Indonesia untuk tidak hanya melihat pertanian sebagai pekerjaan tradisional, tetapi juga sebagai peluang usaha yang menjanjikan melalui inovasi teknologi, pengelolaan bisnis, dan penguatan jaringan pemasaran.
Menurut Alwi, penggunaan teknologi robotika dan sistem pertanian modern dapat membuka peluang bagi petani muda untuk meningkatkan produktivitas serta mengembangkan usaha agribisnis yang lebih kompetitif. Meski demikian, besarnya pendapatan akan bergantung pada skala usaha, biaya operasional, hasil panen, dan kondisi pasar.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Kolaborasi antara PRO-RI, praktisi ketahanan pangan, pelaku usaha, akademisi, dan organisasi kepemudaan dinilai penting untuk mempercepat adopsi teknologi di sektor pertanian.
Keterlibatan institusi pendidikan seperti Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM), sebagaimana disinggung dalam diskusi, juga diharapkan dapat memperkuat pengembangan pengetahuan, riset, dan inovasi pertanian.
Sinergi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga membangun ekosistem pangan yang mencakup pembiayaan, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran hasil pertanian.
Melalui penerapan smart farming, pemanfaatan robotika dan AI, serta penguatan koperasi syariah, PRO-RI bersama para praktisi ketahanan pangan mendorong terbentuknya sistem pertanian nasional yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi salah satu kontribusi dalam mendukung agenda swasembada pangan nasional, memperluas kesempatan kerja bagi generasi muda, serta meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar