JAKARTA, 22 Agustus 2026 โ€” Forum kajian ekonomi independen Economic Frontline hari ini menyelenggarakan diskusi panel bernas bertajuk "Masa Depan Bank Sentral di Era Dunia yang Terfragmentasi". Bertempat di JAVAROCK, Kemang, Jakarta Selatan, forum ini menyoroti dinamika geopolitik global dan disintegrasi ekonomi internasional yang memicu redefinisi mendasar terhadap peran dan independensi bank sentral di berbagai negara.

Selama beberapa dekade terakhir, doktrin independensi bank sentral (central bank independence) dianggap sebagai pilar utama stabilitas moneter dan pengendalian inflasi. Namun, krisis geopolitik beruntun, gangguan rantai pasok global, transisi energi hijau, serta meningkatnya fragmentasi perdagangan internasional telah mengubah konstelasi tersebut. Dunia kini menyaksikan pergeseran menuju era managed interdependence, di mana pemerintah secara lebih aktif turut serta memengaruhi serta menyelaraskan kebijakan bank sentral dengan target-target strategis nasional.

Dinamika Moneter Global dan Tantangan Bank Indonesia

Forum diskusi yang dipandu oleh Dr. Harryadin Mahardika selaku Host/Moderator utama membuka ruang perdebatan mendalam mengenai sejauh mana Indonesia dapat dan harus mempertahankan independensi Bank Indonesia (BI) di tengah gelombang fragmentasi global. Diskusi menekankan bahwa kerangka kerja moneter konvensional kini diuji oleh kebutuhan intervensi fiskal-moneter yang lebih padu guna menopang pertumbuhan ekonomi domestik dari guncangan eksternal.

Para panelis menggarisbawahi bahwa fragmentasi ekonomi globalโ€”seperti proteksionisme perdagangan, de-dolarisasi, dan ketegangan geopolitikโ€”menuntut bank sentral tidak hanya fokus pada stabilitas harga (inflasi) dan nilai tukar, melainkan juga beradaptasi dengan kebijakan pembangunan nasional jangka panjang.

Pandangan Para Pakar dan Narasumber

Diskusi interaktif ini menghadirkan empat narasumber kunci dari kalangan ekonom, akademisi, dan peneliti kebijakan publik nasional:

  1. Nailul Huda โ€” Menganalisis dampak fragmentasi global terhadap ekonomi digital, UMKM, serta efektivitas transmisi kebijakan moneter di tingkat domestik.

  2. Fithra Faisal Hastiadi, Ph.D. โ€” Menyoroti aspek perdagangan internasional, integrasi regional, dan bagaimana koordinasi kebijakan makroprudensial & fiskal diperlukan dalam era managed interdependence.

  3. Teuku Muhammad Riefky Hasan โ€” Meninjau perspektif dinamika pasar keuangan makro, tantangan arus modal keluar (capital outflow), serta fleksibilitas bauran kebijakan (policy mix) Bank Indonesia.

  4. Prayoga Putera Utama โ€” Membahas dimensi kelembagaan, regulasi, dan implikasi politis-ekonomi dari sinergi antara otoritas moneter dan pemerintah.

Detail Pelaksanaan Acara

  • Program: Economic Frontline Forum

  • Topik Utama: Masa Depan Bank Sentral di Era Dunia yang Terfragmentasi

  • Hari / Tanggal: Kamis, 20 Agustus 2026

  • Waktu: 10.00 โ€“ 12.00 WIB

  • Lokasi: JAVAROCK (Jl. Kemang Raya No. 81, Kel. Bangka, Kec. Mampang Prapatan, Jakarta Selatan 12730)

  • Sponsor Utama: JavaRock Dewa Photography

Inisiatif Kolaboratif Dan Penyelenggara

Acara ini terselenggara berkat kolaborasi dan dukungan dari berbagai forum kajian dan gerakan strategis nasional yang berkomitmen mendorong wacana publik berkualitas terkait isu-isu ekonomi makro dan pembangunan berkelanjutan:

  • @transisibersih โ€” Inisiatif dorongan transisi energi & kebijakan ekonomi hijau.

  • @soemitro.economicforum โ€” Wadah diskusi akademis dan kebijakan ekonomi makro.

  • @humanusiafund โ€” Lembaga pemikiran & pendanaan sosial-ekonomi kemanusiaan.

  • @inry.id โ€” Platform riset dan jejaring inovasi pemuda nasiona