Jakarta, PilarRakyatIndonesia.news — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau nelayan tradisional, operator kapal penyeberangan, serta masyarakat yang beraktivitas di laut untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia.
Potensi gelombang tinggi tersebut diperkirakan terjadi pada 8–11 September 2026, dengan ketinggian gelombang yang dapat mencapai 4 meter di sejumlah wilayah perairan.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Meteorologi Maritim BMKG, Agie Wandala Putra, mengatakan kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko keselamatan bagi berbagai jenis transportasi laut, mulai dari kapal berukuran kecil hingga kapal berukuran besar.
“Masyarakat yang beraktivitas di laut perlu memperhatikan ambang batas aman keselamatan. Nelayan dengan perahu kecil berisiko tinggi jika kecepatan angin melebihi 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter,” kata Agie, dikutip dari Antara, Selasa (8/9/2026).
Ambang Batas Keselamatan Kapal
BMKG menetapkan ambang batas kewaspadaan berdasarkan karakteristik dan jenis kapal yang beroperasi di laut.
Untuk nelayan dengan perahu kecil, kondisi mulai berisiko ketika kecepatan angin melebihi 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter.
Sementara itu, kapal tongkang perlu meningkatkan kewaspadaan apabila kecepatan angin melebihi 16 knot dengan tinggi gelombang lebih dari 1,5 meter.
Adapun kapal feri penyeberangan perlu mewaspadai kondisi ketika kecepatan angin mencapai lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang melebihi 2,5 meter.
Sedangkan kapal kargo dan kapal pesiar perlu meningkatkan kewaspadaan apabila kecepatan angin melebihi 27 knot dan tinggi gelombang mencapai 4 meter.
Angin Kencang Picu Gelombang Tinggi
BMKG menjelaskan, potensi gelombang tinggi dipengaruhi oleh kondisi angin kencang yang terpantau mencapai 25 knot di sejumlah wilayah perairan Indonesia.
Angin kencang tersebut antara lain terpantau di Samudra Hindia barat Kepulauan Nias hingga Lampung, Samudra Hindia selatan Banten, Laut Jawa, Selat Makassar bagian selatan, serta Laut Maluku.
Kondisi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan tinggi gelombang di sejumlah perairan.
BMKG memprakirakan gelombang setinggi 2,5–4 meter berpotensi terjadi di wilayah Samudra Hindia selatan Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Potensi gelombang tinggi dengan kisaran serupa juga dapat terjadi di Samudra Hindia bagian barat Mentawai hingga Lampung.
Sementara itu, gelombang dengan ketinggian 1,25–2,5 meter berpotensi terjadi di sejumlah wilayah lain, di antaranya Selat Malaka bagian utara, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Sumbawa, Laut Flores, Laut Banda, Laut Arafuru, hingga Samudra Pasifik utara Maluku.
BMKG meminta masyarakat untuk selalu memperhatikan perkembangan cuaca dan kondisi gelombang sebelum melakukan aktivitas pelayaran.
Kewaspadaan khusus diperlukan bagi nelayan tradisional, operator kapal penyeberangan, serta pengguna moda transportasi laut lainnya dengan mempertimbangkan karakteristik dan ambang batas keselamatan masing-masing kapal.
Masyarakat juga diimbau tidak memaksakan pelayaran apabila kondisi cuaca dan gelombang dinilai membahayakan keselamatan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar