JAKARTA,Pilarrakyatindonesia.news – Pemerintah kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat melalui penajaman sasaran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan ini diarahkan secara khusus kepada daerah-daerah yang menghadapi tantangan serius terkait kemiskinan ekstrem dan tingginya angka stunting.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk mempercepat penurunan kasus gizi buruk, terutama pada kelompok rentan yang membutuhkan perhatian lebih.

“Program MBG tidak hanya soal distribusi makanan, tetapi bagaimana memastikan setiap intervensi benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, khususnya pada masa pertumbuhan awal,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Dalam implementasinya, pemerintah menggunakan pendekatan berbasis data untuk menentukan wilayah prioritas. BGN telah mengidentifikasi sejumlah daerah dengan tingkat kerawanan pangan dan masalah gizi yang tinggi sebagai target utama program.

Beberapa indikator yang digunakan antara lain:

  • Kerawanan Pangan: Wilayah dengan keterbatasan akses terhadap makanan bergizi.
  • Tingkat Kemiskinan: Daerah dengan jumlah penduduk berpenghasilan rendah yang tinggi.
  • Angka Stunting: Wilayah dengan prevalensi stunting di atas rata-rata nasional.

Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas program serta memastikan bantuan tepat sasaran.

“Dengan data yang akurat, kami dapat memprioritaskan wilayah yang benar-benar membutuhkan, sehingga dampaknya lebih signifikan,” jelasnya.

Selain wilayah geografis, program MBG juga difokuskan pada kelompok masyarakat yang memiliki kebutuhan gizi khusus. Pemerintah menetapkan beberapa kelompok prioritas sebagai penerima manfaat utama, yaitu:

  • Ibu hamil
  • Ibu menyusui
  • Balita
  • Santri di lingkungan pesantren

Kelompok tersebut dinilai berada pada fase penting dalam siklus kehidupan, sehingga pemenuhan gizi yang optimal menjadi kunci dalam mencegah stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

(Pras/Pras)