Jakarta, Pilarrakyatindonesia.news – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan sore hari, Rabu (6/5/2026), seiring dengan penguatan sejumlah mata uang di kawasan Asia.
Berdasarkan data RTI Infokom, rupiah ditutup naik 0,22% ke level Rp17.372 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat menyentuh level tertinggi di Rp17.411 dan level terendah di Rp17.358.
Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia juga mencatatkan penguatan. Yuan China naik 0,19%, yen Jepang menguat 1,06%, won Korea Selatan naik 1,41%, dolar Singapura menguat 0,35%, dan baht Thailand naik 0,62%.
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan dolar AS dipengaruhi sentimen global, terutama respons pasar terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurutnya, pernyataan tersebut memberikan optimisme bagi pelaku pasar global, sehingga menekan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.
“Pasar merespons positif pernyataan terkait peluang kesepakatan antara AS dan Iran, sehingga dolar AS mengalami tekanan,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya.
Ia menambahkan, Trump juga mengindikasikan penghentian sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz sebagai bagian dari langkah menuju kesepakatan yang lebih luas, meski belum merinci detailnya.
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61% menjadi sinyal positif bagi penguatan fundamental ekonomi nasional. Namun, ia mencatat bahwa sebagian pelaku pasar masih bersikap hati-hati dan cenderung menarik dana dari pasar modal.
“Percepatan ini belum sepenuhnya dipahami oleh pelaku pasar yang masih menunjukkan kekhawatiran,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyoroti rencana pemerintah yang tengah menyiapkan paket stimulus tambahan guna mendorong aktivitas ekonomi dalam waktu dekat. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan serta meningkatkan kepercayaan pasar.
Untuk perdagangan selanjutnya, Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah akan cenderung fluktuatif dan berpotensi melemah tipis di kisaran Rp17.380 hingga Rp17.420 per dolar AS.
Dengan kombinasi sentimen global dan domestik, arah pergerakan rupiah dinilai masih akan dipengaruhi dinamika eksternal serta respons pasar terhadap kebijakan ekonomi yang ditempuh pemerintah.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar