Jakarta, Pilarrakyatindonesia.news – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pentingnya penguatan fundamental ekonomi nasional guna meredam dampak kebijakan suku bunga tinggi yang diterapkan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik di tengah tekanan global.
Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam rapat terbatas bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka, Selasa (5/5) malam. Dalam pertemuan itu, kepala negara menekankan perlunya membangun dan menjaga kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa saat ini terjadi arus modal keluar (outflow) akibat dinamika geopolitik dan geoekonomi global. Kondisi tersebut dipicu oleh kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan lebih lama oleh The Fed.
“Outflow terjadi karena faktor global, terutama kebijakan suku bunga tinggi yang berlangsung lebih lama,” ujar Friderica dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu.
Meski demikian, pemerintah optimistis bahwa dengan fundamental ekonomi yang kuat, kepercayaan investor dapat kembali pulih sehingga arus modal asing akan kembali masuk ke pasar domestik.
Sebagai bagian dari upaya penguatan fundamental, OJK telah mengambil sejumlah langkah strategis, termasuk meningkatkan transparansi pasar modal. Salah satunya dengan membuka data kepemilikan saham di atas satu persen serta memperluas klasifikasi informasi pasar secara lebih rinci.
Selain itu, otoritas juga mengungkap data terkait pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) serta memperketat aturan likuiditas saham melalui pengaturan porsi saham publik (free float).
Friderica menambahkan, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan pola yang lebih mencerminkan fundamental perusahaan. Sementara itu, potensi perubahan pada indeks MSCI dinilai sebagai dampak sementara dari proses perbaikan sistem yang tengah dilakukan.
Dalam jangka panjang, pemerintah bersama OJK akan terus mendorong pendalaman pasar domestik. Upaya ini antara lain melalui peningkatan jumlah investor lokal, yang kini telah mencapai sekitar 5 juta single investor identification (SID) dalam satu tahun terakhir.
“Kami fokus memperkuat investor domestik agar pasar tetap stabil meskipun terjadi gejolak global,” kata Friderica.
Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap pasar keuangan Indonesia memiliki daya tahan lebih kuat terhadap tekanan eksternal serta mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar