Jakarta, Pilarrakyatindonesia.news - Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudha Sadewa, menegaskan bahwa kondisi geopolitik global yang memanas, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah, menjadi tantangan serius bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20 yang berlangsung di sela agenda IMF–World Bank Spring Meetings pada April 2026.

Dalam forum internasional tersebut, Purbaya menjelaskan bahwa negara berkembang saat ini menghadapi tekanan besar dari meningkatnya ketidakpastian global. Beberapa risiko utama yang menjadi perhatian adalah pergerakan arus modal yang tidak stabil, tekanan terhadap inflasi domestik, serta dampak rambatan dari gangguan sistem keuangan internasional.

Menurutnya, lonjakan harga energi akibat konflik internasional juga memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian banyak negara. Namun Indonesia dinilai mampu menjaga keseimbangan ekonomi nasional melalui pengelolaan fiskal yang hati-hati dan respons kebijakan yang terukur.

Purbaya menekankan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tetap difungsikan sebagai instrumen utama untuk melindungi masyarakat dari dampak gejolak ekonomi global.
Pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan disiplin fiskal tetap terjaga sesuai batas yang telah ditetapkan.

Meskipun sempat terjadi tekanan pada nilai tukar rupiah dan arus keluar modal asing akibat sentimen global, pemerintah menyatakan kondisi makroekonomi Indonesia masih berada dalam jalur yang aman. Kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional dinilai tetap terpelihara berkat fundamental yang relatif kuat.

Salah satu faktor yang menopang optimisme pemerintah adalah kinerja perdagangan luar negeri yang terus mencatat surplus selama beberapa tahun terakhir. Selain itu, konsumsi domestik yang stabil, inflasi yang terkendali, serta rasio utang yang terjaga menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah juga terus mempercepat reformasi di sektor energi dan investasi melalui penyederhanaan perizinan serta pembentukan tim percepatan untuk mengatasi hambatan di lapangan. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang belum menentu.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah tetap optimistis target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat tercapai, sekaligus menjaga stabilitas nasional di tengah tantangan ekonomi dunia yang semakin kompleks.

(Rika/Fikri/Pras)