Jakarta, Pilarrakyatindonesia.news – Presiden Prabowo Subianto menghadiri kegiatan Panen Raya Udang di kawasan Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) di Kebumen, Jawa Tengah. Dalam kunjungan tersebut, Presiden turun langsung ke area tambak, menyapa para penambak, hingga ikut menarik jala saat proses panen berlangsung.

Kawasan tambak modern tersebut berdiri di atas lahan seluas sekitar 100 hektare dan dikembangkan dengan konsep budi daya udang modern berbasis tata kelola terpadu. Sistem yang diterapkan mencakup saluran air masuk (intake), kolam tandon, pemisahan saluran inlet dan outlet, kolam produksi, hingga instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Dalam kesempatan itu, Presiden meninjau langsung proses panen udang vaname serta kegiatan sortir hasil panen sebelum dipasarkan. Ia tampak berdialog dengan para pekerja tambak dan mendengarkan laporan terkait produktivitas kawasan tersebut.

Menurut Prabowo, sektor budi daya udang memiliki prospek yang sangat menjanjikan dan berpotensi menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen udang terbesar di dunia.

“Jadi sangat menjanjikan, tadi saya diberi laporan satu hektare bisa menghasilkan 40 ton. Luar biasa 40 ton ya, dan harganya sangat bagus, Rp70 ribu per kilo. Berarti per ton Rp70 juta,” ujar Prabowo.

BUBK Kebumen sendiri memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Dengan total 206 petak kolam, nilai produksi kawasan tersebut diperkirakan mencapai Rp67,2 miliar per siklus dan berpotensi menembus Rp134,4 miliar per tahun.

Selain meningkatkan produksi perikanan nasional, kawasan ini juga menyerap ratusan tenaga kerja lokal. Presiden menyebut saat ini sekitar 650 warga setempat telah bekerja di kawasan tambak modern tersebut.

Lebih lanjut, Prabowo mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mengembangkan proyek serupa dalam skala lebih besar di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

“Jadi ini sangat bagus, sangat produktif. Lapangan kerja yang bisa diserap sekarang 650 orang setempat bekerja dan kita sudah membangun di Waingapu 2.000 hektare,” imbuhnya.

Kawasan BUBK Kebumen pun diproyeksikan menjadi contoh transformasi budi daya tradisional menuju sistem modern berbasis teknologi dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Pemerintah berharap model ini dapat menjadi acuan pengembangan sektor perikanan nasional di berbagai daerah Indonesia.